Pemahaman Risiko Penyebaran Virus Corona di DKI Jakarta melalui Analisis Spasial (Part-001)

· 3 min read

Abstrak

Pandemi global COVID-19 telah meluas di berbagai Negara dan telah teridentifikasi ditemukan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. sebagai sebuah pandemi, diperlukan upaya aksi mitigasi struktural maupun non struktural oleh seluruh elemen baik pemerintah maupun masyarakat seluruhnya untuk memahami  risiko penyebaran COVID-19 secara spasial dengan harapan berbagai aksi mitigasi yang akan dilakukan dapat tepat sasaran dan dapat memutus mata rantai penyebaran dengan efisien. 

Pendekatan spasial digunakan sebagai metode analisis yang komprehensif dengan melibatkan parameter yang dapat membantu penanganan secara akurat dalam lingkup provinsi DKI Jakarta sebagai titik awal yang kemunculan COVID-19 di Indonesia yang memerlukan identifikasi wilayah yang rentan akan persebaran COVID-19 beserta lokasinya, agar dapat membuat rencana aksi untuk memperlambat persebaran dan penanganan pasien yang cepat. 

Rencana aksi dibuat dengan mengacu pada kondisi kerentanan dan ketahanan masyarakat diharapkan dapat diimplementasikan segera secara tepat hingga di tingkat lingkungan melalui pembuatan gugus tugas di tingkat kelurahan (Kelurahan Tanggap) dan di tingkat lingkungan (RW Siaga). Tugas dan fungsi Kelurahan Tanggap dan RW Siaga ditetapkan berdasarkan pedoman yang dibuat oleh Pemerintah DKI Jakarta sehingga segala tindakan yang diperlukan dapat dilakukan menyeluruh dan masif hingga pada lingkup terkecil lingkungan masyarakat.

Pengantar

Kemampuan memahami risiko penyebaran virus secara spasial menjadi krusial bagi pengambil kebijakan baik di level pemerintahan pusat maupun daerah serta masyarakat dalam memitigasi pandemi global ini, terutama di DKI Jakarta yang menjadi pusat persebaran kasus positif COVID-19 di Indonesia. Kemampuan ini sebaiknya tidak hanya dibangun melalui analisis statistik maupun kebijakan yang deskriptif, namun dibutuhkan analisis spasial di tingkat administrasi pemerintah terendah. Dengan demikian, diharapkan pemerintah dapat bersinergi dengan masyarakat dalam merespon dan membuat rencana aksi yang efisien dan akurat dalam tahapan mitigasi yang dilakukan .

Data terkait kondisi aktual COVID-19 dan data pendukung lainnya (misalnya, sebaran Desil, penyakit kronis, profil penduduk) sampai saat ini telah tersedia hingga level kelurahan atau kecamatan yang dikelola oleh pemerintah sehingga data yang ada tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dalam analisa spasial awal guna mengetahui risiko penyebaran COVID-19 di 262 kelurahan di DKI Jakarta, sedangkan di tahun 2020 kelurahan di DKI Jakarta tercatat 267 kelurahan. (lihat Gambar 1).

Analisis spasial ini dapat digunakan untuk memahami banyak hal dalam merespon krisis ini, di antaranya untuk mengetahui kelurahan yang rentan dan bagaimana mendukung kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk masyarakat, terutama bagi rumah tangga termiskin yang tergolong Desil 1 hingga 4. Kerentanan kelurahan terhadap potensi dampak COVID-19 dapat diketahui melalui beberapa indikator yakni jumlah lansia, penduduk yang berpenyakit kronis (terutama berusia di atas 45 tahun), kepadatan penduduk, dan persebaran lokus titik vital yang tidak dapat ditutup aksesnya oleh pemerintah daerah saat ini karena alasan distribusi makanan dan lain sebagainya. berbagai parameter ini dinilai penting karena erat kaitannya dengan ketahanan masyarakat terhadap COVID-19 dan penyebarannya.

Gambar 1. Batas Administrasi Kelurahan di DKI Jakarta

Sumber data: Badan Informasi Geospasial dan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta tahun 2018

Dengan pemahaman risiko spasial yang lebih baik, kita akan semakin baik dalam merespon krisis ini, termasuk dalam membuat skenario perencanaan dan aksi di tingkat kelurahan yang dapat diturunkan menjadi gugus-gugus kerja di tingkat kelurahan dan lingkungan. Usaha mitigasi pandemi memerlukan partisipasi masyarakat guna membentuk sistem pendukung terkecil dalam masyarakat untuk mengurangi penyebarannya di level lingkungan. 

Kelurahan Tanggap dan RW Siaga dapat menjadi salah satu alternatif gugus tugas di tingkat kelurahan dan lingkungan. Masyarakat dapat dilibatkan untuk mengontrol aktivitas lingkungan sesuai dengan konteks wilayahnya dalam tahap Pembatasan Sosial Skala Besar (PBSS) yang mulai diterapkan oleh pemerintah DKI Jakarta mulai tanggal 10 April 2020 yang lalu . Pelibatan masyarakat dapat berupa jadwal bergilir warga di Rukun Tetangga (RT) sebagai anggota RW Siaga karena lebih mengetahui detil kondisi lingkungannya saat ini. Tugas RW Siaga di antaranya adalah melakukan pencatatan dan pemetaan langsung warga yang terkait dengan COVID-19 di lingkungan mereka berupa Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Dalam Pengawasan (ODP), dan korban meninggal. hal ini bertujuan untuk memberikan dukungan dan fungsi kontrol saat masa isolasi diperlukan pagi lingkungan tersebut. tentunya proses pencatatan oleh RW setempat dapat memberikan gambaran paling akurat proses bantuan yang diperlukan oleh masyarakat terutama dengan melakukan konfirmasi jumlah Rumah Tangga Termiskin (RTT) yang berada di Desil 1 hingga Desil 4. Selain itu, mereka dapat mengawasi lingkungan dalam penerapan social distancing,  RW Siaga juga melaporkan jika ada warga yang memiliki gejala terinfeksi virus Corona yang membutuhkan ruang isolasi karena tidak memiliki ruang khusus untuk mengisolasi keluarganya di rumah. Kelurahan Tanggap berkoordinasi secara intensif dengan RW Siaga agar penanganan penyebaran virus dan penderita COVID-19 dapat dilakukan cepat. 

Pelibatan masyarakat sebagai aktor utama dalam upaya pemutusan rantai penyebaran covid menjadi penting mengingat sifat penyebaran virus COVID-19 yang tidak dapat terdeteksi secara kasat mata sehingga perlu kesadaran dari masyarakat untuk terlibat dalam mekanisme strategi mitigasi yang disusun oleh pemerintah yang tentunya diharapkan dapat disosialisasikan dan menjadi tahapan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Analisis Kerentanan juga menjadi penting untuk mengurangi dampak penyebaran dan untuk melihatnya klik disini.

Penulis :
Dzimar Akbarur Rokhim Prakoso, Spesialis Geography Information System dan Penginderaan Jauh.

Fajar Dewangga, Spesialis Geography Information System.

Miya Irawati, Peneliti, Future Cities Laboratory – Singapore ETH Centre; PhD. Candidate, Geography dept. – NUS; anggota peneliti, Urban Laboratory – Universitas Tarumanagara