Kebakaran Hutan 2019, Kenapa terjadi?

· 3 min read
Kebakaran Hutan 2019, Kenapa terjadi?

Kebakaran hutan seluas 2,6 juta hektar yang melanda 7 provinsi di Indonesia belum sepenuhnya hilang dari ingatan kita semua. Asap kebakaran yang ditimbulkan bergerak hingga ke wilayah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Kerugian yang ditimbulkan terhitung mencapai Rp. 221 Triliun dimana banyak sekali kegiatan ekonomi tersendat, kerusakan ekologis, jadwal penerbangan terganggu, hingga munculnya permasalahan kesehatan. Pemerintah telah berupaya untuk mengatasi dampak dari kebakaran hutan dan lahan melalui sejumlah upaya teknis hidrologis, revegetasi, maupun pendekatan sosial-ekonomi kemasyarakatan .
Menilik dari upaya yang telah dilakukan pemerintah, maka sudah tentu banyak yang bertanya-tanya sudah dilaksanakan upaya restorasi kenapa masih terjadi kebakaran?
Berdasarkan pernyataan Kapolri Tito Karnavian, telah ditetapkan sejumlah tersangka dalam kasus pembakaran lahan. Pembukaan lahan dengan cara dibakar memang bukan barang baru lagi. Metode ini merupakan metode yang murah dan cepat namun dampaknya tidak dipedulikan oleh pelaku. Meskipun banyak yang mengatakan membakar adalah tradisi nenek moyang namun menurut saya ada beberapa faktor yang perlu menjadi catatan. Membuka lahan dengan cara bakar tidak sepenuhnya berarti membakar lahan. Membakar hanya sebagian kecil dari prosesnya. Pembukaan dengan metode tersebut biasanya tidak dalam skala yang besar (luasnya cukup untuk pertanian kelompok saja), bukan di lahan gambut (karena lahan gambut sangat mudah terbakar dan terbakarnya bisa hingga berminggu-minggu), membakar hanya untuk membersihkan sisa semak bukan untuk keseluruhan lahan, serta memperhatikan elemen-elemen alam (angin, cuaca, dll).

Metode pembukaan lahan tanpa membakar kini sudah banyak dikembangkan karena memang pada kenyataannya membuka lahan dengan cara membakar lebih banyak mendatangkan bencana dan kerugian serta mungkin juga faktor Climate Change is Real jadi kondisi alam sekarang tidak bisa disamakan dengan jaman nenek moyang. Faktor kesengajaan manusia memang menjadi poin penting dalam kejadian seperti ini. Namun kita coba kita pahami dari sisi yang lain, bagaimana alam mempengaruhi kejadian kebakaran pada tahun tersebut.

Aspek yang paling erat dikaitkan pada kejadian kekeringan di Indonesia dari aspek iklim tidak lain tidak bukan adalah El-Nino. Pada Juli 2018 – Agustus 2019, Kita dapat mengamati lewat citra satelit bahwa telah terjadi peningkatan suhu permukaan laut pada wilayah tengah dan timur samudera pasifik ditandai dengan warna merah. Peningkatan suhu permukaan laut (SPL) di periode 2018 – 2019 memang tidak seekstrim pada kejadian ditahun 2015 yang mengakibatkan kekeringan parah di sebagian besar wilayah Indonesia seperti yang terlihat pada gambar dibawah (kanan). Warna SPL merah hingga putih menunjukkan kondisi El-Nino kuat ditandai dengan peningkatan suhu permukaan secara drastis.

Juli 2018 – Agustus 2019

Akhir tahun 2015

Berdasarkan ENSO indeks, kita dapat melihat bahwa memang terjadi peningkatan ONI (Oceanic Nino Index) dengan rentang +0.6 – +0.9 selama rentang September 2018 hingga Juli 2019. Nilai positif tersebut menunjukkan adanya anomali El-Nino lemah yang mengakibatkan angin yang berhembus menuju Indonesia cenderung miskin air. Meskipun dampaknya tidak kuat namun jelas hal tersebut tetap berpengaruh pada kondisi iklim yang terjadi di Indonesia. Musim kering pada tahun 2019 cenderung lebih kering dan lebih panjang dibanding dengan keadaan normal.

Kebakaran hutan dan lahan nampaknya sudah menjadi agenda tahunan yang tidak dapat terhindarkan. Namun, kita tidak perlu mencari kambing hitam dalam permasalahan ini. Setiap langkah dilaksanakan bertujuan untuk kesejahteraan serta kepentingan bersama. Memulihkan suatu ekosistem lahan yang telah terdegradasi bukanlah hal yang mudah dan cepat. Perlu kerja keras dan waktu yang lama hingga alam kembali pulih seperti sedia kala dan itu merupakan tugas setiap kita untuk menjaganya.

Sumber :
https://bnpb.go.id/kepala-bnpb-tinjau-karhutla-bersama-panglima-tni-dan-kapolri-di-riau

https://www.webberweather.com/multivariate-enso-index.html

https://sealevel.jpl.nasa.gov/science/elninopdo/latestdata/archive/index.cfm?y=2015